E-learning  |   Info Akademik  |   Pendaftaran Mahasiswa Baru  |   Dosen  





Berita
berita seputar STIESIA
Yudisium dan Pemberian Gelar Doktor Program Studi S3 Ilmu Manajemen: Hafidulloh dan Suwarno Endro
27 November 2017

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya (STIESIA) mengadakan acara Yudisium dan Pemberian Gelar Doktor Program Studi S3 Ilmu Manajemen : Hafidulloh dan Suwarno Endro, Sabtu, 25 November 2017 Bertempat di Gedung Graha Widya Bhakti, acara tersebut dihadiri oleh:
1. Ketua STIESIA Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E., M.Si., Ak.CA
2. Wakil Ketua I (Bidang Akademik), Dr. Ikhsan Budi Riharjo, S.E., M.Si., Ak., CA
3. Wakil Ketua II (Bidang Keuangan dan Umum) Dra. Ec. Sasi Agustin, M.M
4. Wakil Ketua III (Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan), Dr. Suwitho,SE.,MSi
5. Ketua Program Doktor Ilmu Manajemen (PDIM), sekaligus promotor Prof. Dr. Budiyanto, M.S
6. Tim Penguji, Civitas akademika lainnya juga para undangan

Dalam orasi ilmiah yang berjudul Pemberian Insentif dalam Meningkatkan Kinerja Guru, Hafidulloh menjelaskan faktor yang mempengaruhi kinerja guru adalah kepuasan kerja yang berkaitan erat dengan kesejahteraan guru yang dilatarbelakangi oleh faktor-faktor, antara lain: imbalan jasa, rasa aman, hubungan antar pribadi, kondisi lingkungan kerja, dan kesempatan untuk pengembangan dan peningkatan diri. Tujuan pemberian insentif pada dasarnya merupakan salah satu bagian dalam merangsang atau menggairahkan guru agar terus menerus berusaha memperbaiki dan meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas yang menjadi kewajiban serta tanggung jawabnya. Selain pemenuhan tersebut juga harus dibarengi dengan pengelolaan yang baik, sesuai dengan standar nasional dan landasan pembelajaran yang berlaku, agar dapat sepenuhnya mendukung pembelajaran. Sebuah sistem insentif biasanya akan memiliki kesempatan sukses yang lebih besar jika semua karyawan didalam organisasi diberi kesempatan berpartisipasi. Jika beberapa karyawan dikucilkan, mereka akan menjadi iri dan benci kepada orang-orang yang memiliki kesempatan memperoleh bayaran intensif ekstra, dan akibatnya akan kurang mau bekerja sama secara maksimal. Program intensif yang dirancang dengan baik akan berjalan karena program tersebut didasarkan pada dua prinsip psikologis yang diterima dengan baik, yaitu motivasi yang meningkatkan menyebabkan melejitnya kinerja dan pengakuan merupakan faktor utama dalam motivasi. Pemberian insentif kepada guru merupakan usaha yang harus diperhatikan dan dibangun untuk menggairahkan guru agar lebih rajin melakukan tugasnya dan dapat mencapai hasil yang lebih baik dan tercipta kinerja yang tinggi.

Suwarno Endro dalam orasi ilmiah yang berjudul Peningkatan Kinerja Guru dalam Upaya Menghasilkan Lulusan yang Berkualitas, menjelaskan Permendiknas Nomor 35 tahun 2010 menyatakan bahwa diklat fungsional adalah kegiatan guru dalam mengikuti atau pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan keprofesian guru yang bersangkutan dalam kurun waktu tertentu. Beberapa contoh bentuk kegiatan kolektif guru antara lain: lokakarya atau kegiatan bersama (seperti KKG, MGMP, NM MGBK, KKKS, dan MKKS) untuk menyusun dan/ mengembangkan perangkat kurikulum, pembelajaran, dan/atau media pembelajaran, keikutsertaan pada kegiatan ilmiah (seminar, koloqium, workshop, bimbingan teknis, dan/atau diskusi panel), baik sebagai pembahas maupun peserta. Kegiatan kolektif lainnya yang sesuai dengan tugas dan kewajiban guru, mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran yang bervariasi sesuai kebutuhan anak didik. Mengevaluasi hasil kinerja, menganalisis dan mengembangkan model melakukan refleksi, dan melakukan penelitian mandiri, melakukan identifikasi, menulis modul, membaca, mengembangkan, melaksanakan dan melakukan kegiatan bersama, dan juga kunjungan ke sekolah lain. Dengan demikian diharapkan kinerja guru akan meningkat lebih baik lagi dan akan menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Prof. Dr. Budiyanto, M.S selaku promotor mengingatkan bahwa untuk meraih gelar doktor perlu pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa. Setelah gelar doktor ini dicapai, harus menjaga gelar ini, karena doktor hanya sebuah atribut, yang lebih penting adalah memelihara gelar doktor tersebut, dengan diberikannya gelar doktor didepan nama, terdapat tanggung jawab akademik dan moral yang harus dijaga. Tanggung jawab akademik ialah gelar doktor harus selalu menjadi pendorong untuk senantiasa berkarya mengembangkan bidang ilmunya dengan melakukan penelitian-penelitian dan mempublikasikan baik nasional maupun internasional. Sedangkan tanggung jawab moral ialah seorang doktor akan menjadi rujukan dan panutan.

Ketua STIESIA Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E., M.Si., Ak.CA, menyampaikan bahwa terdapat empat hal yang harus dimiliki seorang doktor agar diterima masyarakat, antara lain:
pertama, kecerdasasn spiritual, yaitu sesuatu yang ada dalam diri seseorang doktor yang mampu mengembangkan diri sendiri, mampu menghasilkan nilai-nilai positif, harus tercipta sebuah sikap dan perilaku yang pantang menyerah dan mampu memposisikan diri. Kedua, kecerdasan. Intelektual, yaitu semua yang menempuh pendidikan formal melalui proses tersebut. Ilmu yang telah dimiliki dapat diamalkan untuk diri sendiri, keluarga, institusi, Negara, dan agama. Ketiga, kecerdasan sosial, yaitu interaksi dengan lingkungan dan masyarakat. Harus dapat memposisikan diri dalam masyarakat. Keempat, kecerdasan emosional. Beliau berharap keempat hal tersebut dapat mengaplikasikan dan selalu ada dalam diri para lulusan, karena dengan mengkombinasikan hal-hal tersebut dapat membantu memposisikan diri dengan baik di masyarakat.

Diakhir sesi, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Anang Subarjo, S.E., MM dan pembawa acara menutup dengan ucapan terima kasih dan mempersilahkan untuk memberi selamat dan berfoto bersama.

 

foto dari berita diatas
Berita Lainnya
Jenjang Studi
Warta Dies
lebih lengkap
Pengumuman
lebih lengkap
Event
lebih lengkap
Bookmark and Share

© 2009 - www.stiesiaedu.com

Best View Resolution 1024 x 768