Kamis, 28 Juni 2012 - Indonesia memiliki sedikitnya 2.060 pelabuhan, 646 diantaranya adalah pelabuhan umum yang seharusnya bisa dikelola dan diusahakan secara profesional oleh negara maupun perusahaan kepelabuhan. Sayangnya baru 111 pelabuhan yang dikelola oleh perusahaan Pelabuhan, sisanya 535 pelabuhan masih dikelola seadanya oleh pemerintah daerah masing-masing.
Hal itu diungkapkan oleh Wahyu Suparyono, Direktur Keuangan PT pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, saat memberikan kuliah tamu di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya kemarin pagi. “Saat ini potensi dan perkembangan 111 pelabuhan yang sudah dikelola secara profesional kini sudah berkembang dengan baik bahkan sebagian besar menjadi pelabuhan yang padat dan ramai. Beberapa diantaranya maju dari sektor pengiriman peti kemas, kepanduan bahkan Pelindo III kini malah sudah memiliki anak perusahan sendiri mulai dari jalan tol laut hingga rumah sakit umum di pelabuhan”.
Dan dengan berkembangnya PT Pelindo III (Persero) yang wilayah kerjanya hingga Indonesia Timur itu, kini Pelindo berupaya memberikan biaya angkut yang terjangkau di Indonesia, sehingga sebagian besar industri maupun jasa pengangkutan akan lebih memilih jalur laut. Apalagi ditengah image pengangkutan lewat jalur laut masih dinilai terlalu mahal. \"Salah satunya dengan melakukan direct call atau rute pelayaran yang langsung, karena selama ini ada beberapa rute yang harus berputar mengunjungi beberapa pelabuhan dulu baru sampai ke tujuan. Sehingga nantinya harga barang yang masuk kepasaran melalui jalur laut bisa lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat dan tentunya produk Indonesia bisa bersaing harganya dengan serbuan produk impor terutama China.
Badan Usaha Pelabuhan PT. Pelindo III (Persero) optimistis biaya angkut di Indonesia bias kian terjangkau bagi pelaku usaha di tanah air dibandingkan dengan kondisi sekarang memiliki tingkat kemahalan sangat tinggi. “Keyakinan ini bisa direalisasi jika seluruh komoditas dan barang yang masuk atau keluar dari Indonesia tidak diwajibkan melalui pelabuhan di Singapura”, lanjut Wahyu dalam materi kuliah umum tersebut.
Menurut analisis Wahyu, direct call akan menghemat biaya hingga Rp 13,6 triliun. Contohnya saja pengiriman barang dari Amerika selalu harus lewat Singapura. Padahal jika tak bersandar ke Singapura bisa dihemat dengan rincian biaya, transhipment dari Indonesia ke Singapura sekitar 340 dolar AS meliputi 183 dolar AS merupakan biaya angkutan dari Indonesia ke Singapura. Dan 157 dolar AS lainnya digunakan untuk biaya terminal handling charged. [redweb: dari berbagai sumber] |